> INFORMASI SUDAH DIBUKA PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU UNTUK TAHUN PELAJARAN 2027-2028. INFORMASI LEBIH LANJUT HUBUNGI 0811 2921 157 >>> MARI BERGABUNG DALAM TRIAL CLASS HARI SABTU, 5 SEPTEMBER 2026, PADA PUKUL 08.00 - 10.30, DI SD MARSUDIRINI PEMUDA SEMARANG >>> FOLLOW, LIKE DAN COMMENT AKUN MEDIA SOSIAL SD MARSUDIRINI >>> INSTAGRAM @SDMARSUDIRINIPEMUDA >>> TIKTOK @SDMARSUDIRINI "
Tampilkan postingan dengan label Piwulang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piwulang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juli 2026

Tanamkan Sikap Saling Menghargai, SD Marsudirini Pemuda Semarang Gelar Sosialisasi Anti-Bullying

SEMARANG — SD Marsudirini Pemuda Semarang menggelar kegiatan sosialisasi anti-bullying bertema “Berbeda Itu Unik, Bersama Itu Asik” pada Jumat, 24 Juli 2026. Acara yang berlangsung di Aula SD Marsudirini Pemuda ini diselenggarakan melalui kerja sama dengan Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak.



Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Agar materi dapat tersampaikan secara efektif dan sesuai dengan taraf perkembangan anak, acara dibagi menjadi dua sesi:

  • Sesi I: Ditujukan untuk siswa jenjang kelas kecil (kelas 1–3).
  • Sesi II: Ditujukan untuk siswa jenjang kelas besar (kelas 4–6).

Pembelajaran Interaktif dan Edukatif

Selama acara berlangsung, tim narasumber dari Unika Soegijapranata menyampaikan materi dengan pemanfaatan media visual modern. Melalui layar presentasi interaktif, para siswa diajak mengenali berbagai bentuk perilaku perundungan (bullying), baik secara verbal, fisik, maupun sosial, serta memahami dampaknya terhadap teman sebaya.



Anak-anak mengikuti rangkaian acara dengan sangat antusias. Antusiasme ini terlihat jelas saat pemateri turun langsung menyapa dan memberikan kesempatan bertanya kepada peserta. Para siswa yang mengenakan seragam pramuka tampak berebut ingin berbicara, menjawab pertanyaan, dan membagikan pengalaman mereka menggunakan mikrofon.

Mendorong Sikap Inklusif Sejak Dini

Tema “Berbeda Itu Unik, Bersama Itu Asik” dipilih untuk menekankan pentingnya menghargai keberagaman di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan yang ramah anak, narasumber mengajak para siswa untuk:

  • Menganggap perbedaan fisik, latar belakang, maupun karakter sebagai keunikan yang memperkaya pertemanan.
  • Berani menolak aksi perundungan dan tidak menjadi penonton pasif saat melihat teman diperlakukan tidak adil.
  • Mengembangkan empati dan rasa saling menyayangi sesama teman sekolah.

Pihak sekolah berharap kolaborasi dengan Universitas Katolik Soegijapranata ini dapat terus berlanjut. Melalui sosialisasi ini, SD Marsudirini Pemuda Semarang menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang belajar yang bebas dari perundungan, sehingga setiap siswa dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Gigi, SD Marsudirini Pemuda Semarang Gelar Sosialisasi "Gigiku Sehat Senyumku Ceria"


SEMARANG – Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesejahteraan serta tumbuh kembang anak-anak usia sekolah. Guna menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan diri sejak dini, SD Marsudirini Pemuda Semarang menggelar kegiatan sosialisasi kesehatan gigi bertema "Gigiku Sehat Senyumku Ceria" pada Kamis, 23 Juli 2026.

Berlokasi di Aula SD Marsudirini Pemuda Semarang, kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Untuk menjaga suasana belajar tetap kondusif dan materi yang disampaikan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa, acara dibagi menjadi dua sesi:

  • Sesi Pertama: Diikuti oleh siswa kelas 1, 2, dan 3 pada pagi hari.
  • Sesi Kedua: Dikhususkan bagi siswa kelas 4, 5, dan 6 pada siang hari.

Kolaborasi Bersama Orang Tua Murid Berprofesi Dokter

Acara ini terasa semakin spesial karena mengusung konsep sinergi dan keterlibatan aktif lingkungan sekolah. SD Marsudirini Pemuda berkolaborasi langsung dengan para orang tua murid yang berprofesi sebagai dokter gigi.



Hadirnya para dokter gigi yang juga merupakan bagian dari keluarga besar sekolah membuat suasana sosialisasi berlangsung hangat, edukatif, sekaligus interaktif. Para dokter memaparkan materi dengan gaya penyampaian yang ringan, menarik, serta mudah dipahami oleh anak-anak.

Edukasi Interaktif dan Antusiasme Para Siswa

Antusiasme tinggi terlihat jelas dari seluruh peserta. Para siswa tampak bersemangat menyimak penjelasan mengenai cara menyikat gigi yang baik dan benar, pentingnya memilih makanan yang sehat untuk gigi, hingga risiko jika malas merawat kebersihan mulut.



Tidak hanya mendengarkan paparan teori, anak-anak juga diajak untuk berpartisipasi langsung secara praktis melalui peragaan alat peraga kesehatan gigi dan sesi tanya jawab yang interaktif. Kehadiran peraga visual seperti maket gigi berukuran besar membuat para siswa semakin tertarik dan aktif mengajukan pertanyaan.

Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga terbiasa menerapkan gaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga semangat "Gigiku Sehat Senyumku Ceria" senantiasa terpancar dari seluruh siswa SD Marsudirini Pemuda Semarang.

 

 

Rabu, 22 Juli 2026

Edukasi Perlindungan Diri Sejak Dini, SD Marsudirini Pemuda Gelar Sosialisasi Sex Education "Tubuhku adalah Milikku"

 SEMARANG – Dalam upaya memberikan pemahaman mendasar mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan dan keamanan diri, SD Marsudirini Pemuda Semarang menggelar kegiatan sosialisasi sex education bertajuk "Tubuhku adalah Milikku". Kegiatan yang diselenggarakan pada Selasa, 21 Juli 2026 bertempat di Aula SD Marsudirini Pemuda ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.



Edukasi kesehatan seksual dan reproduksi sejak usia dini menjadi hal mendesak untuk dibekalkan kepada peserta didik, guna memagari anak-anak dari potensi kejahatan atau kekerasan seksual serta meningkatkan kesadaran akan batas-batas tubuh.

Pembagian Sesi Berdasarkan Usia Perkembaangan Anak

Untuk memastikan materi yang disampaikan dapat diserap secara optimal dan sesuai dengan tingkat pemahaman usia anak, panitia membagi kegiatan ini menjadi dua sesi utama:

  1. Sesi Pertama (Kelas 1–3): Berlangsung pada pagi hari dengan pendekatan yang interaktif, edukatif, dan ramah anak. Pada sesi ini, materi difokuskan pada pengenalan bagian-bagian tubuh, pemahaman tentang "area pribadi" yang tidak boleh dilihat atau disentuh oleh orang lain, serta keberanian untuk berkata "Tidak!" (Say No) dan melapor kepada guru atau orang tua jika merasa tidak nyaman.
  2. Sesi Kedua (Kelas 4–6): Dilaksanakan pada sesi berikutnya dengan pendalaman materi yang disesuaikan untuk usia pra-remaja. Siswa diajak memahami perubahan fisik dan emosional masa pubertas, pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi, batas batasan dalam berinteraksi sosial, hingga pemanfaatan teknologi digital secara bijak.

Antusiasme Tinggi dan Partisipasi Aktif Siswa

Suasana di Aula SD Marsudirini Pemuda tampak begitu hidup. Didampingi oleh narasumber ahli di bidang kesehatan dan psikologi anak, penyampaian materi dikemas secara menarik melalui visual presentasi, cerita interaktif, tanya jawab, serta peragaan sederhana.

Para siswa menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Banyak peserta didik yang mengacungkan tangan dengan penuh percaya diri saat sesi tanya jawab dibuka, baik untuk menjawab pertanyaan pemantik dari pemateri maupun menyampaikan kebingungan mereka secara terbuka.



"Anak-anak sangat responsif dan berani bertanya. Hal ini menunjukkan bahwa ruang edukasi yang terbuka dan aman seperti ini memang sangat dibutuhkan oleh mereka," ujar salah satu pemateri di sela-sela kegiatan.

Komitmen Sekolah Mewujudkan Lingkungan Ramah Anak

Pihak sekolah menegaskan bahwa sosialisasi ini merupakan bagian dari komitmen SD Marsudirini Pemuda dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara holistik—tidak hanya dari segi akademis, tetapi juga karakter dan perlindungan diri.

Melalui kegiatan bertema "Tubuhku adalah Milikku" ini, diharapkan seluruh siswa SD Marsudirini Pemuda Semarang memiliki benteng diri yang kuat, semakin percaya diri, serta mampu menghargai dan menjaga tubuh mereka sendiri maupun menghormati batasan orang lain.

Selasa, 21 Juli 2026

Berani Menolak, Berani Melindungi Diri: SD Marsudirini Pemuda Semarang Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba


 

SEMARANG — Upaya membentengi generasi muda dari bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang terus dilakukan sejak dini. SD Marsudirini Pemuda Semarang menggelar kegiatan sosialisasi edukatif bertajuk “Berani Menolak, Berani Melindungi Diri” pada Senin, 20 Juli 2026. Acara yang berlangsung di Aula SD Marsudirini Pemuda ini diikuti oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.

Kegiatan sosialisasi ini dirancang khusus agar materi yang disampaikan dapat diserap dengan baik sesuai dengan rentang usia peserta. Oleh karena itu, acara dibagi menjadi dua sesi:

  • Sesi I: Diperuntukkan bagi siswa kelas 1, 2, dan 3 dengan pendekatan yang interaktif, visual, dan ramah anak.
  • Sesi II: Diikuti oleh siswa kelas 4, 5, dan 6 dengan penyampaian materi yang lebih mendalam mengenai pencegahan dan dampak bahaya penyalahgunaan zat terlarang.

Tampilkan Media Edukasi Interaktif


Dalam pelaksanaan kegiatan, pemateri menghadirkan tayangan edukatif melalui proyektor serta materi visual yang menarik perhatian para siswa. Pendekatan interaktif ini membuat para siswa tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga diajak berpikir kritis dan memahami pentingnya menjaga diri dari bujukan atau barang-barang asing yang mencurigakan.

Siswa-siswi terlihat sangat antusias sepanjang jalannya acara. Mereka menyimak pemaparan materi dengan tertib, merespons pertanyaan dari pemateri, dan aktif berinteraksi saat sesi tanya jawab berlangsung.

Rangkaian Edukasi Lingkungan Sekolah

Kegiatan edukasi ini merupakan bagian dari rangkaian program sosialisasi sekolah yang berlangsung sepanjang pekan, 20–24 Juli 2026. Melalui pemahaman yang ditanamkan sejak dini, SD Marsudirini Pemuda Semarang berharap para siswa tidak hanya memiliki pengetahuan akademik yang baik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, siap membentengi diri, serta berani berkata “tidak” terhadap hal-hal yang berbahaya bagi masa depan mereka.

Rabu, 04 Februari 2026

Menabur Kasih dalam Keterbatasan: Kunjungan Kasih SD Marsudirini ke Panti Asuhan Cacat Ganda Bhakti Asih

 


SEMARANG – Pada hari Rabu, 4 Februari 2026, suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti koridor Panti Asuhan Cacat Ganda (PACG) Bhakti Asih, Kota Semarang. Keluarga besar SD Marsudirini melakukan kunjungan sosial yang melibatkan para Suster, Kepala Sekolah, guru pendamping, serta perwakilan siswa-siswi.

Kunjungan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan edukasi karakter untuk mendekatkan anak-anak pada realitas kehidupan yang beragam, sekaligus membagikan kebahagiaan kepada saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus.

Misi Utama: Lebih dari Sekadar Berbagi

Tujuan utama dari kegiatan ini dirancang secara mendalam oleh pihak sekolah untuk menyentuh aspek kognitif dan afektif siswa, di antaranya:

  1. Penanaman Nilai Empati dan Kebersyukuran: Mengajak siswa untuk melihat langsung perjuangan hidup teman-teman di panti asuhan, sehingga muncul rasa syukur atas segala anugerah yang mereka miliki.
  2. Implementasi Pendidikan Karakter: Mewujudkan nilai-nilai dasar Marsudirini, yaitu kasih sayang tanpa pamrih kepada sesama, terutama mereka yang paling membutuhkan dan sering terlupakan.
  3. Membangun Inklusivitas Sejak Dini: Mengedukasi siswa bahwa keterbatasan fisik dan mental bukanlah penghalang untuk menjalin persaudaraan. Setiap manusia memiliki martabat yang sama di mata Tuhan.
  4. Dukungan Moril dan Material: Memberikan bantuan nyata berupa donasi dan kebutuhan pokok, serta dukungan semangat melalui kehadiran fisik dan interaksi langsung.

Momen Penuh Haru di Bhakti Asih

Rombongan tiba di lokasi disambut hangat oleh pengurus panti dan para penghuni. Para suster dan Kepala Sekolah mengawali kegiatan dengan doa bersama, memohon kesehatan dan kekuatan bagi para penghuni panti serta para perawat yang dengan sabar mendedikasikan hidup mereka di sana.

Momen paling menyentuh terlihat ketika siswa-siswi SD Marsudirini mulai berinteraksi. Meski awalnya tampak ragu, anak-anak segera mencair ketika melihat keceriaan penghuni panti saat diajak berkomunikasi.

Dukungan Penuh dari Sekolah

Ibu Veronika Sri Winarni, S.Pd selaku Kepala Sekolah SD Marsudirini menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dari kurikulum kehidupan. Beliau berharap pengalaman ini akan membekas di hati para siswa hingga mereka dewasa nanti, menjadikan mereka pribadi yang peka terhadap isu sosial di sekitar mereka.

Kunjungan diakhiri dengan penyerahan simbolis bantuan hasil donasi dari seluruh orang tua murid dan warga sekolah. Hal ini menunjukkan sinergi yang luar biasa antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung aksi kemanusiaan.

Kunjungan ke PACG Bhakti Asih ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap keterbatasan, ada jiwa-jiwa hebat yang mengajarkan tentang arti ketabahan. SD Marsudirini berkomitmen untuk terus mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki "Hati yang Melayani."

Salam Marsudirini! Deus Providebit.

 


Senin, 14 April 2025

Semangat Kedisiplinan Berkobar di Upacara Bendera SD Marsudirini

 

Semarang, Jawa Tengah – Suasana khidmat dan penuh semangat mewarnai halaman Sekolah Dasar (SD) Marsudirini pada Senin pagi, 14 April 2025. Seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, didampingi oleh para guru dan karyawan sekolah, berkumpul untuk mengikuti upacara bendera mingguan. Kegiatan rutin yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kedisiplinan ini berlangsung lancar di bawah langit Semarang yang cerah.


Upacara yang dimulai tepat pukul 07.00 WIB ini dipimpin oleh petugas upacara yang terdiri dari siswa-siswi kelas VI. Mereka menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, mulai dari pengibaran bendera Merah Putih, pembacaan teks Pancasila, hingga pembacaan doa. Kekompakan dan ketertiban barisan siswa mencerminkan kedisiplinan yang telah ditanamkan di lingkungan sekolah.

Sorotan utama dalam upacara kali ini adalah amanat yang disampaikan oleh Bapak Tomi Setiawan S.Pd, salah seorang guru kelas 6 yang bertugas sebagai pembina upacara. Dengan suara yang lantang dan penuh semangat, Bapak Tomi menyampaikan amanat yang bertemakan tentang pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi para siswa sebagai generasi penerus bangsa.

Dalam amanatnya, Bapak Tomi menekankan bahwa kedisiplinan bukanlah hal yang sulit untuk diterapkan, melainkan sebuah kebiasaan baik yang perlu dilatih sejak usia dini. Beliau menjelaskan bahwa kedisiplinan tidak hanya terbatas pada kepatuhan terhadap peraturan sekolah, tetapi juga mencakup aspek yang lebih luas, seperti disiplin dalam belajar, disiplin dalam mengatur waktu, disiplin dalam menjaga kebersihan, dan disiplin dalam menghargai orang lain.

"Kedisiplinan adalah kunci keberhasilan dalam segala hal. Tanpa kedisiplinan, impian dan cita-cita akan sulit untuk diraih," ujar Bapak Tomi dengan penuh keyakinan. Beliau juga menambahkan bahwa lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan pada anak-anak. "Kedisiplinan dimulai dari hal-hal kecil di rumah, seperti bangun pagi tepat waktu, membantu orang tua, dan mengerjakan tugas sekolah dengan sungguh-sungguh," lanjutnya.



Lebih lanjut, Bapak Tomi memaparkan berbagai manfaat yang akan didapatkan jika seseorang memiliki kedisiplinan sejak dini. Beberapa manfaat tersebut antara lain meningkatkan prestasi belajar, membentuk karakter yang kuat dan bertanggung jawab, melatih kemandirian, serta menciptakan lingkungan yang tertib dan kondusif. Beliau berharap agar seluruh siswa SD Marsudirini dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat.

"Saya berharap, melalui upacara bendera pada hari ini, kita semua semakin menyadari betapa pentingnya kedisiplinan. Mari kita jadikan kedisiplinan sebagai bagian dari diri kita, sebagai bekal untuk meraih masa depan yang gemilang," pungkas Bapak Tomi di akhir amanatnya.

Kepala Sekolah SD Marsudirini, Ibu Veronica Sri Winarni, S.Pd., yang turut hadir dalam upacara tersebut, menyampaikan apresiasinya atas kelancaran pelaksanaan upacara dan pesan yang disampaikan oleh Bapak Tomi. Beliau berharap agar amanat tentang kedisiplinan tersebut dapat diresapi dan diimplementasikan oleh seluruh warga sekolah.

"Upacara bendera bukan hanya sekadar kegiatan rutin, tetapi juga merupakanMomentum penting untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak. Tema kedisiplinan yang kita usung hari ini sangat relevan dengan upaya kita untuk membentuk karakter siswa yang unggul dan berakhlak mulia," tutur Ibu Veronica Sri Winarni

Kegiatan upacara bendera di SD Marsudirini pagi itu berjalan dengan khidmat dan tertib hingga selesai. Cuaca cerah semakin menambah semangat para siswa dan guru dalam mengikuti setiap rangkaian acara. Setelah upacara selesai, para siswa kembali ke kelas masing-masing untuk memulai kegiatan belajar mengajar dengan semangat baru dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin. Upacara bendera kali ini diharapkan dapat menjadi pengingat yang kuat bagi seluruh warga SD Marsudirini akan pentingnya kedisiplinan sebagai landasan untuk meraih kesuksesan di masa depan. (FX)

Senin, 10 Februari 2025

Semangat Jurnalistik Membara di Ekstrakurikuler SD Marsudirini



Semarang, 10 Februari 2025 - Ruang kelas SD Marsudirini Jl. Pemuda Semarang dipenuhi semangat para siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Setiap Senin, pukul 13.15 hingga 14.45 WIB, mereka berkumpul untuk mempelajari seluk beluk dunia jurnalistik.

Pada pertemuan Senin (10/2), Bp. Fransiscus Xaverius Iskin Triyanto, atau yang akrab disapa Pak Tri, membimbing siswa-siswi untuk belajar membuat berita. Pak Tri dengan penuh semangat menjelaskan teknik-teknik dasar penulisan berita, mulai dari menentukan topik yang menarik, mengumpulkan informasi, hingga menyusun berita dengan struktur yang baik dan benar.

Suasana belajar semakin hidup karena siswa-siswi diperbolehkan menggunakan smartphone atau gadget untuk mencari dan melihat contoh-contoh berita. Tidak hanya mendengarkan materi, mereka juga langsung mempraktikkan cara membuat berita. Antusiasme siswa-siswi dalam menulis sungguh luar biasa. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan saling berbagi ide untuk menghasilkan berita yang informatif dan menarik.

"Kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik ini bertujuan untuk mengenalkan dunia jurnalistik sejak dini kepada siswa-siswi," ujar Pak Tri. "Selain itu, kegiatan ini juga bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswa-siswi."

Melalui kegiatan ini, SD Marsudirini berharap dapat menumbuhkan minat dan bakat siswa-siswi di bidang jurnalistik. Siapa tahu, kelak akan muncul jurnalis-jurnalis handal dari SD Marsudirini yang siap menyampaikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat.

Selasa, 30 Juli 2024

Sosialisasi Anti Narkoba di SD Marsudirini

 


Selasa, 30 Juli 2024 SD Marsudirini  mengadakan sosialisasi anti-narkoba di Aula dengan mendatangkan narasumber dari BNN. Tujuan diadakannya sosialisasi anti-narkoba ini untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya penyalahgunaan narkoba dan membantu siswa-siswi memahami dan mengerti tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. 

Sosialisasi anti-narkoba ini dimulai pada pukul 09.00 WIB setelah waktu istirahat sampai sampai pukul 10.00 untuk kelas 1-3 dan dilanjutkan 10-15 sampai selesai untuk kelas 4-6.


Dalam sosialisasi ini membicarakan terkait definisi dari narkoba itu sendiri, jenis-jenisnya, bahaya dari narkoba, ciri-ciri jika sudah terpapar narkoba, cara terhindar dan melindungi diri sendiri dari narkoba, contoh modus penipuan narkoba, hingga apa yang harus dilakukan jika sudah terlanjur terpapar narkoba. 


Sosialisasi ini dilakukan menggunakan media presentasi. Presentasi digunakan untuk menyampaikan informasi secara langsung dan interaktif. Di sela-sela presentasi juga diadakan quiz berhadiah bagi yang bisa menjawab pertanyaan. sedangkan poster edukatif digunakan untuk menyampaikan informasi secara visual dan mudah dipahami.


Dengan demikian, diharapkan dapat mengurangi angka penyalahgunaan narkoba. Selain itu, program ini juga dapat membantu dalam pembentukan karakter yang sehat dan beretika di kalangan siswa-siswi. Dalam keseluruhan, program sosialisasi anti-narkoba oleh BNN merupakan langkah yang strategis dalam upaya pencegahan dan perlawanan terhadap penyalahgunaan narkoba. Dengan metode yang efektif dan sasaran yang tepat, program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku sehat di kalangan anak-anak.



Selasa, 16 April 2024

Kegiatan Ekstrakurikuler Jurnalistik Belajar Meliput

Kegiatan meliput dan menulis merupakan dua tugas yang mesti dijalani bagi seseorang yang berprofesi sebagai jurnalis.

Unsur-unsur pembuatan berita diawali dengan rumus yang dikenal 5W (what, why, who, when dan where) dan 1 H (how). Peralatan liputan seperti notes, tape recorder, pulpen dan kamera harus disiapkan.


Dalam kegiatan ekstrakurikuler hari ini anak-anak belajar liputan memberikan informasi. Sebelumnya anak diberikan materi tentang liputan . Kegiatan ini juga  melatih anak percaya diri di depan kamera.

Minggu, 24 Maret 2024

Selamat Memasuki Pekan Suci


 

Pekan Suci atau Minggu Suci (juga disebut Minggu Sengsara; bahasa Latin: Hebdomada Sancta, atau juga disebut Hebdomas Maior (Pekan/Minggu Besar); bahasa Yunani: Μεγάλη Εβδομάδα, /Megali Evdomada/ (Pekan/Minggu Besar); Inggris: Holy Week) dalam agama Kristen adalah satu pekan sejak Minggu Palma hingga Sabtu Suci/Sabtu Sepi/Sabtu Sunyi, yang kemudian diikuti dengan hari Paskah yang selalu jatuh pada hari Minggu.[1] Istilah "Pekan Suci" lebih umum digunakan daripada "Minggu Suci", karena ada kerancuan antara "minggu" sebagai pekan dan "minggu" sebagai hari (sedangkan yang dimaksud di sini adalah "pekan", bukan hari Minggu).

Pekan Suci dalam tahun Kristen adalah masa satu minggu tepat sebelum hari Paskah. Rujukan tertua terhadap kebiasaan untuk menandai minggu ini secara keseluruhan dengan perayaan-perayaan khusus ditemukan dalam Konstitusi Rasuli (ayat 18, 19), yang berasal dari paruhan yang belakangan dari abad ke-3 M. Dalam teks ini orang-orang Kristen diperintahkan untuk berpantang anggur dan daging selama hari-hari ini, sementara pada hari Jumat dan Sabtunya mereka berpuasa penuh. Dionisius Alexandrinus dalam surat kanoniknya (260 M), merujuk kepada keenam hari puasa itu dan menyiratkan bahwa pada masanya itu masyarakat telah terbiasa untuk melaksanakannya.

Ada yang menyatakan bahwa perintah untuk berpantang melakukan kegiatan dalam masyarakat selama tujuh hari tepat sebelum Minggu Paskah dan juga tujuh hari sesudahnya berasal dari dari Konstantin. Namun, Codex Theodosianus, jelas memerintahkan bahwa semua tindakan yang berkaitan dengan hukum harus dihentikan dan pintu-pintu gedung pengadilan ditutup selama 15 hari itu (1. ii. tit. viii.). Tentang hari-hari tertentu dari "minggu yang besar" itu, yang pertama menjadi sangat menonjol sudah tentu adalah hari Jumat Agung. Berikutnya adalah Sabbatum Magnum (Sabtu Sunyi atau Malam Paskah) yang dirayakan oleh umat yang tidak tidur semalaman. Di kalangan gereja perdana hari ini dihubungkan dengan pengharapan akan advent yang kedua Yesus Kristus yang diyakini akan terjadi pada suatu Minggu Paskah.[2]

Ada pula teks-teks lain yang merujuk kepada tradisi-tradisi Gereja Perdana; yang paling penting adalah Ziarah Etheria (juga dikenal sebagai Ziarah Egeria) yang memberikan uraian terinci tentang perayaan lengkap Pekan Suci di kalangan gereja perdana.

 

Liturgi Suci Perjamuan Terakhir diselenggarakan pada pagi hari Kamis Putih yang digabungkan dengan Vesper serta Liturgi St. Basil. Terdapat sebuah kebiasaan pada beberapa gereja yakni meletakkan kain linen putih di atas altar gereja yang mengingatkan dan merenungkan kejadian perjamuan terakhir. Setelah pelaksanaan liturgi, biasanya seorang imam atau hegoumenos akan melaksanakan Pembasuhan kaki terhadap dua belas orang pendeta (oleh para imam) atau dua belas orang anggota biara (oleh hegoumenos).

Ibadat Matin hari Jumat Agung, bersama dengan Dua Belas Pembacaan Injil, diselenggarakan pada malam hari Kamis Putih; Ibadat Vesper (doa malam) pada Jumat Agung (Vesper Pencabutan Paku Yesus) disselenggarakan pada pagi atau sore hari pada Jumat Agung. Patung Kristus diturunkan dari Salib, dan sebuah ikon dengan bordiran yang sangat indah pada sehelai kain yang disebut "epitafios" yang mewakili Kristus diletakkan di dalam sebuah "makam" yang dihiasi dengan bunga-bunga.

Ibadat Matin Sabtu Sunyi diselenggarakan pada malam hari Jumat Agung; makam ditaburi dengan kelopak-kelopak mawar dan air mawar, dan kemudian dibawa pada sebuah prosesi dengan cahaya lilin, sementara serangkaian nyanyian yang disebut "Ratapan" dinyanyikan. Liturgi Suci diselenggarakan pada Sabtu pagi. Ini adalah ibadat "Proti Anastasi" (Kebangkitan Pertama), dengan perubahan dari kain-kain yang berwarna gelap dengan kain-kain yang berwarna terang.

 

Sabtu tengah malam, ibadat dimulai dalam suasana gelap. Sebatang lilin dinyalakan oleh imam, dari sebuah cahaya pada altar yang tidak pernah dipadamkan. Cahaya ini menyebar dari orang ke orang hingga semua orang memegang sebatang lilin yang menyala. Dilanjutkan dengan Liturgi Suci. Setelah itu biasanya diadakan resepsi atau pesta, yang kadang-kadang berlangsung hingga fajar. Orang-orang Slavia membawa keranjang-keranjang Paskah yang berisi telur, daging, mentega dan keju – makanan yang sepanjang masa Pra-Paskah tidak dihindari oleh umat – untuk diberkati.

badat Vesper Agape biasanya diselenggarakan pada Hari Paskah. Pada ibadat ini biasanya Injil dibacakan dalam sebanyak mungkin Bahasa. Ibadat ini sering kali digabungkan dengan pencarian telur Paskah dan kegiatan-kegiatan lain untuk anak-anak.

(wikipedia)

Rabu, 04 Oktober 2023

Selamat Memperingati St Fransiskus Assisi


 Santo Fransiskus Asisi, Pengaku Iman

 

Giovanni Francesco Bernardone lahir di Asisi, daerah pegunungan Umbria, Italia Tengah pada tahun 1182. Ayahnya, Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya; sedang ibunya Yohana Dona Pica, seorang puteri bangsawan picardia, Prancis. Ia dipermandikan dengan nama 'Giovanni Francesco Bernardone' tetapi kemudian lebih dikenal dengan nama 'Francesco' karena kemahirannya berbahasa Prancis yang diajarkan ibunya.

 

la sangat dimanjakan ayahnya sehingga berkembang menjadi seorang pemuda yang suka berfoya-foya dan pemboros. Pada umur 20 tahun ia bersama teman-temannya terlibat sebagai prajurit dalam perang saudara antara Asisi dan Perugia. Dalam pertempuran itu ia ditangkap dan dipenjarakan selama 1 tahun hingga jatuh sakit setelah dibebaskan. Pengalaman pahit itu menandai awal hidupnya yang baru. Ia tidak tertarik lagi dengan usaha dagang ayahnya dan corak hidup mewahnya dahulu. Sebaliknya ia lebih tertarik pada corak hidup sederhana dan miskin sambil lebih banyak meluangkan waktunya untuk berdoa di gereja, mengunjungi orang-orang di penjara dan melayani orang-orang miskin dan sakit. Sungguh suatu keputusan pribadi yang datang di luar bayangan orang sedaerahnya dan orangtuanya.

Tak lama kemudian ketika sedang berdoa di gereja San Damian di luar kota Asisi, ia mendengar suatu suara keluar dari Salib Yesus: "Fransiskus, perbaikilah rumahku yang hampir rubuh ini!" Fransiskus tertegun sebentar lalu dengan yakin mengatakan bahwa suara itu adalah suara Yesus sendiri. Segera ia lari ke rumah. Tanpa banyak pikir dia mengambil setumpuk kain mahal dari gudang ayahnya lalu menjual kain-kain itu. Uang basil penjualan kain itu diberikan kepada pastor paroki San Damian untuk membiayai perbaikan gereja itu. Tetapi pastor menolak pemberiannya itu.

 

Ayahnya marah besar lalu memukul dan menguncinya di dalam sebuah kamar. Ibunya jatuh kasihan lalu membebaskan dia dari kurungan itu. Setelah dibebaskan ibunya, ia kembali ke gereja San Damian. Ayahnya mengikuti dia ke sana, memukulnya sambil memaksanya mengembalikan uang hasil penjualan kain itu. Dengan tenang ia mengatakan bahwa uang itu sudah diberikan kepada orang-orang miskin. Ia juga tidak mau kembali lagi ke rumah meskipun ayahnya menyeret pulang. Ayahnya tidak berdaya lalu meminta bantuan Uskup Asisi untuk membujuk Fransiskus agar mengembalikan uang itu. Fransiskus patuh pada Uskup. Di hadapan Uskup Asisi, ia melucuti pakaian yang dikenakannya sambil mengatakan bahwa pakaian-pakaian itu pun milik ayahnya. Dan semenjak itu hanya Tuhan-lah yang menjadi ayahnya. Sang Uskup memberikan kepadanya sehelai mantel dan sebuah ikat pinggang. Inilah pakaian para gembala domba dari Umbria, yang kemudian menjadi pakaian para biarawan Fransiskus.

 

Fransiskus tidak kecut apalagi sedih hati dengan semua yang terjadi atas dirinya. Ia bahkan dengan bangga berkata: "Nah, sekarang barulah aku dapat berdoa sungguh-sungguh "Bapa kami yang ada di surga." Dan semenjak itu Sabda Yesus "Barangsiapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menjual segala harta kekayaannya dan membagikannya kepada orang miskin" menjadi dasar hidupnya yang baru. Sehari-harian ia mengemis sambil berkotbah kepada orang-orang yang ada di sekitar gereja San Damiano. Ia menolong orang-orang miskin dan penderita lepra dengan uang yang diperolehnya setiap hari. Ia sendiri hidup miskin. Kalau ia berbicara tentang nasehat-nasehat Injil, ia menggunakan bahasa lagu-lagu cinta yang populer dan bahasa-bahasa puitis. Ia sendiri rajin menyusun puisi-puisi dan selalu membacakannya keraskeras kalau ia berjalan jalan.

 

la disebut orang sekitar dengan nama "Poverello" (=Lelaki miskin). Cara hidupnya, yang miskin tetapi selalu gembira dan penuh cinta kepada orang-orang miskin dan sakit, menarik minat banyak pemuda. Pada tahun 1209, ada tiga orang bergabung bersamanya: Bernardus Guantevale, seorang pedagang kaya; Petrus Katana, seorang pegawai, dan Giles, seorang yang sederhana dan bijak. Harta benda mereka dipakai untuk melayani kaum miskin dan orang-orang sakit. Bersama derigan tiga orang itu, Fransiskus membentuk sebuah komunitas persaudaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ordo yaitu "Ordo Saudara-saudara Dina", atau "Ordo Fransiskan." Tak ketinggalan wanita-wanita. Klara, seorang gadis Asisi meninggalkan rumahnya dan bergabung juga bersamanya. Bagi Klara dan kawan-kawannya, Fransiskus mendirikan sebuah perkumpulan khusus. Itulah awal dari Kongregasi Suster-suster Fransiskan atau Ordo Kedua Fransiskan.

 

Fransiskus ditahbiskan menjadi diakon dan mau tetap menjadi seorang diakon sampai mati. Ia tidak mau ditahbiskan menjadi imam. Lebih dari orang-orang lain, Fransiskus berusaha hidup menyerupai Kristus. Ia. menekankan kemiskinan absolut bagi para pengikutnya waktu itu. Sebagai tambahan pada kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan, ia menekankan juga penghayatan semangat cinta persaudaraan, dan kesederhanaan hidup. Ordo Benediktin yang sudah lama berdiri memberi mereka sebidang tanah. Demi sahnya komunitas yang dibentuknya, dan aturan hidup yang disusunnya, ia berangkat ke Roma pada tahun 1210 untuk meminta restu dari Sri Paus Innosensius III (1198-1216). Mulanya Sri Paus menolak. Tetapi pada suatu malam dalam mimpinya, Paus melihat tembuk-tembok Basilik Santo Yohanes Lateran berguncang dan Fransiskus sendiri menopangnya dengan bahunya. Pada waktu pagi, Paus langsung memberikan restu kepada Fransiskus tanpa banyak bicara.

 

Lagi-lagi Ordo Benediktin menunjukkan perhatiannya kepada Fransiskus dan kawan-kawannya. Kapela Maria Ratu para Malaekat di Portiuncula, milik para rahib Benediktin, kira-kira dua mil jauhnya dari kota Asisi, diserahkan kepada Fransiskus oleh Abbas Ordo Benediktin. Fransiskus gembira sekali. Ia mulai mendirikan pondok-pondok kecil dari kayu di sekitar kapela itu sebagai tempat tinggal mereka yang pertama. Kemudian Chiusi, seorang tuan tanah di daerah itu, memberikan kepadanya sebidang tanah di atas bukit La Verna, di bilangan bukit-bukit Tuscan. La Verna kemudian dijadikannya sebagai tempat berdoa dan bermeditasi. Semangat kerasulannya mulai membara dari hari ke hari. Dalam hatinya mulai tumbuh keinginan besar untuk mempertobatkan orangorang Muslim di belahan dunia Timur. Ia mulai menyusun rencana perjalanan ke Timur. Pada musim gugur tahun 1212, ia bersama seorang kawannya berangkat ke Syria. Tetapi nasib sial menghadang mereka di pertengahan jalan. Kapal yang mereka tumpangi karam dan mereka terpaksa kembali lagi ke Italia. Tetapi ia tidak putus asa. Ia mencoba lagi dan kali ini ia mau pergi ke Maroko melalui Spanyol. Tetapi sekali lagi niatnya tidak bisa terlaksana karena ia jatuh sakit. Pada bulan Juni 1219, ia sekali lagi berangkat ke belahan dunia Timur bersama 12 orang temannya. Mereka mendarat di Damaieta, delta sungai Nil, Mesir. Di sana mereka menggabungkan diri dengan pasukan Perang Salib yang berkemah di sana. Nasib sial menimpa dirinya lagi. Ia ditawan oleh Sultan Mesir. Saat itu menjadi suatu peluang baik baginya untuk berbicara dengan Sultan Islam itu. Sebagai tawanan ia minta izin untuk berbicara dengan Sultan Mesir. Ia. berharap dengan pertemuan dan pembicaraan dengan Sultan, ia dapat mempertobatkannya. Sultan menerima dia dengan baik sesuai adat sopan santun ketimuran. Namun pertemuan itu sia-sia saja. Sultan tidak bertobat dan menyuruhnya pulang kepada teman-temannya di perkemahan setelah mendengarkan kotbahnya.

 

Setelah beberapa lama berada di Tanah Suci, Fransiskus dipanggil pulang oleh komunitasnya. Selama beberapa tahun, ia berusaha menyempurnakan aturan hidup komunitasnya. Selain itu ia mendirikan lagi Ordo Ketiga Fransiskan. Ordo ini dikhususkan bagi umat awam yang ingin mengikuti cara hidup dan ajarannya sambil tetap mengemban tugas sebagai bapa-ibu keluarga atau tugas-tugas lain di dalam masyarakat. Para anggotanya diwajibkan juga untuk mengikrarkan kaul kemiskinan dan kesucian hidup. Kelompok ini lazim disebut kelompok "Tertier". Tugas pokok mereka ialah melakukan perbuatan-perbuatan baik di dalam keluarga dan masyarakat dan mengikuti cara hidup Fransiskan tanpa menarik diri dari dunia.

 

Ordo Fransiskan ini berkembang dengan pesat dan menakjubkan. Dalam waktu relatif singkat komunitas Fransiskan bertambah banyak jumlahnya di Italia, Spanyol, Jerman dan Hungaria. Pada tahun 1219 anggotanya sudah 5000 orang. Melirlat perkembangan yang menggembirakan ini maka pada tahun 1222, Paus Honorius III (1216-1227) secara resmi mengakui komunitas religius Fransiskan beserta aturan hidupnya. Pada tahun 1223, Fransiskus merayakan Natal di daerah Greccio. Upacara malam Natal diselenggarakan di luar gereja. Dia rnenghidupkan kembali. gua Betlehem dengan gambar-gambar sebesar badan. Penghormatan kepada Kanak-kanak Yesus yang sudah menjadi suatu kebiasaan Gereja dipopulerkan oleh Fransiskus bersama para pengikutnya.

 

Pada umur 43 tahun ketika sedang. berdoa di bukit La Verna sekonyong-konyong terasa sakit di badannya dan muncul di kaki dan tangan serta lambungnya luka-luka yang sama seperti luka-luka Yesus. Itulah 'stigmata' Fransiskus. Luka-luka itu tidak pernah hilang seliingga menjadi sumber rasa sakit dan kelemahan tubuhnya. Semenjak peristiwa ajaib itu, Fransiskus mulai mengenakan sepatu dan mulai menyembunyikan tangan-tangannya di balik jubahnya.

Fransiskus dikagumi orang-orang sezamannya bahkan hingga kini karena berbagai karunia luar biasa yang dimilikinya. Ia dijuluki "Sahabat alam semesta" karena cintanya yang besar dan dalam terhadap alam ciptaan Tuhan. Semua ciptaan menggerakkan jiwanya untuk bersyukur kepada Tuhan dan memuliakan keagunganNya. Seluruh alam raya beserta isinya benar-benar berdamai dengan Fransiskus. Ia dapat berbincang-bincang dengan semua ciptaan seperti layaknya dengan manusia. Semua disapanya sebagai 'saudara': saudara matahari, saudari bulan, saudara burung-burung, dll. Ia benar-benar menjadi sahabat alam dan binatang.

Lama kelamaan kesehatannya semakin menurun dan pandangan matanya mulai kabur. Dalam kondisi itu, ia menyusun karyanya yang besar "Gita Sang Surya." Salah satu kidung di dalamnya, yang melukiskan tentang 'keindahan saling mengampuni' dipakainya untuk mendamaikan Uskup dengan Penguasa Asisi yang sedang bertikai. Ia diminta untuk mendamaikan keduanya. Untuk itu ia menganjurkan agar perdamaian itu dilakukan di halaman istana uskup bersama beberapa imam dan pegawai kota. Ia sendiri tidak ikut serta dalam pertemuan perdamaian itu. Namun ia mengutus dua orang rekannya ke sana dengan instruksi untuk menyanyikan lagu "Gita Sang Surya", yang telah ia tambahi dengan satu bagian tentang 'keindahan saling mengampuni'. Ketika mendengar nyanyian yang dibawakan dengan begitu indah oleh dua orang biarawan Fransiskan itu, Uskup dan Penguasa Asisi itu langsung berdamai tanpa banyak bicara.

Menjelang tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mengundurkan diri. Sebab, di antara saudara-saudarariya seordo terjadilah selisihpaham mengenai penghayatan hidup miskin seperti yang diointai dan dihayatinya sendiri. Pada tanggal 3 Oktober 1226 dalam umur 44 tahun, Fransiskus meninggal dunia di kapela Portiuncula. Dua tahun berikutnya, ia langsung dinyatakan 'kudus' oleh Gereja.

Fransiskus adalah orang kudus besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat hingga kini. Kebesarannya terletak pada dua hal berikut: kegembiraannya dalam hidup yang sederhana, menderita lapar dan sakit, dan pada cintanya yang merangkul seluruh ciptaan. Ketika Gereja menjadi lemah dan sakit karena lebih tergiur dengan kekayaan dan kekuasaan duniawi, Fransiskus menunjukkan kembali kekayaan iman Kristen dengan menghayati sungguh-sungguh nasehat-nasehat dan cita-cita Injil yang asli: kerendahan hati, kemiskinan dan cinta.!

Senin, 01 Mei 2023

Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2023



Indonesia memiliki sejarah Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei, meski peringatan ini tidak ditandai dengan libur nasional. Pada tahun ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan tema peringatan Hari Pendidikan Nasional 2023 adalah 'Bergerak Bersama Semarakkan Merdeka Belajar'. Selain itu, akan ada pula upacara bendera dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional pada Selasa, 2 Mei 2023 pukul 07.00 WIB . Terlepas dari peringatan dan tema Hari Pendidikan Nasional pada tahun ini, tahukah kamu latar belakang diperingatinya Hari Pendidikan Nasional? Berikut sejarahnya. Hari Pendidikan Nasional atau disingkat Hardiknas merupakan hari yang ditetapkan pemerintah untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, tokoh penting bagi kemajuan pendidikan Indonesia sejak masa penjajahan. Pemerintah telah menetapkan Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tanggal 2 Mei sendiri merupakan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 67 Tahun 1961 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Pemerintah menetapkan peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei, meski bukan hari libur. Pria yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Suryaningrat itu menjadi sosok penting bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Sebab dirinya berani mengkritik pemerintah Hindia Belanda karena hanya memberi akses pendidikan bagi keturunan Belanda dan kaum priyayi. Nah masih ingat dengan semboyan Ki Hajar Dewantara? pasti ingat dong... Ki Hajar Dewantara  membentuk tiga semboyan yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia sebagai berikut. Ing Ngarso Sung Tulodo yang berarti 'Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik' . Ing Madyo Mangun Karso yang berarti 'Di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide' Tut Wuri Handayani yang berarti 'Di belakang, guru harus bisa memberikan dorongan atau arahan' . Demikian sejarah Hari Pendidikan Nasional. Semoga bermanfaat dan selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional 2023!