Selasa, 17 Desember 2013

SD MARSUDIRINI PEMUDA WAKIL JAWA TENGAH DALAM DIKLAT REALISTIC MATHEMAGICS EDUCATION


PAK ANGGA dari SD MARSUDIRINI PEMUDA, WAKIL JAWA TENGAH
 dalam DIKLAT REALISTIC MATHEMAGICS EDUCATION  ( SEAMEO QITEP )
Muda, ganteng, energik, dan murah senyum. Itulah profil Pak Angga, begitu dia biasa dipanggil oleh anak-anak didik maupun rekan-rekan guru. Pemilik nama lengkap Gabriel Erlangga Prasetyanto ini, belum lama berselang terpilih mewakili Guru-guru matematika se Jawa Tengah untuk mengikuti Diklat Realistic Mathematics Education
yang diadakan oleh Southeast Asian Minister of Education Organization (SEAMEO) Regional Centre for Quality Improvement of Teachers and Educaton Personnel (QITEP) in Mathematics.
Apa itu SEAMEO QITEP  in Mathematics ? SEAMEO QITEP adalah sebuah organisasi  yang bergerak di bidang pendidikan di lingkup Asia Tenggara. Sejak tahun 2009 SEAMEO QITEP  telah bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan Guru-guru Matematika, IPA dan Bahasa di lingkup Asia Tenggara. Setiap tahun, SEAMEO QITEP mengadakan tiga kali diklat . Dan pada tanggal 3 – 23 Oktober 2013 yang baru lalu diadakan Diklat Realistic Mathematics Education. Peserta diklat ini adalah Guru Matematika atau guru Kelas yang mengajar Matematika tingkat SD yang berasal dari negara-negara anggota SEAMEO.
Bagaimana bisa, ya... Pak Angga terpilih untuk mewakili diklat bergensi tersebut ? Semuanya itu berawal, ketika suatu hari beliau ditelepon oleh seseorang yang mengatakan bahwa beliau mendapat nama Pak Angga dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, dan menyatakan bahwa Pak Angga  terpilih sebagai kandidat peserta Diklat Realistic Mathematics Education. Proses seleksi  peserta sendiri berdasarkan wawancara melalui telepon dengan menggunakan bahasa inggris.
Beberapa pertanyaan yang diajukan melalui Handphone, diantarnya,  “ Can you introduce your self, please ? dan kedua  “ Please, tell me your hope if you choosen with this course”   Dengan penuh percaya diri, semua pertanyaan itu dijawab Pak Angga dengan lancar, kendati dengan kemampuan  bahasa inggris yang pas-pasan.
Beberapa hari kemudian, Pak Angga menerima surat panggilan, yang menyatakan bahwa ia lolos seleksi dan resmi terpilih sebagai peserta Diklat Realistic Mathematics Education .                                                                    Terkaget-kaget, heran, bingung, deg-degan , bangga dan 1001 macam perasaan bercampur jadi satu, ketika beliau mengetahui bahawa ia terpilih untuki mengikuti Diklat tersebut. Namun, tekad dan semangat tak menyurutkan langkahnya untuk maju menimba pengetahuan dan pengalaman di dunia pendidikan khususnya matematika demi anak-anak didiknya.
Bertempat di Aula PPPPTK Matematika, jalan Kaliurang Km 6 , Sambisari, Condongcatur, Sleman Yogyakarta, Peserta yang berasal dari negara-negara Asia Tenggara dan beberapa perwakilan dari provinsi di Indonesia berkumpul.  Mereka  terdiri dari Kalimantan Barat ( 1 orang ), Sumatra Selatan ( 1 orang ), Bengkulu     ( 2 orang ), NAD ( 2 Oang ), NTB ( 2 orang ), Jawa Timur ( 1 orang ), DKI Jakarta ( 1 orang ), Yogyakarta ( 2 orang ), dan  Jawa Tengah ( Pak Angga ). Di antara para peserta dari Indonesia, Pak Angga satu-satunya peserta dari sekolah Swasta , dan ia boleh bangga karena ia membawa nama SD Marsudirini. Di samping itu beberapa peserta dari negara-negara Asia Tenggara : Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Philipina, Thailand, dan Vietnam. Oleh karena itu bahasa pengantar yang digunakan selama Diklat adalah Bahasa Inggris.
Hari pertama ( Opening Day ) masing-masing peserta memperkenalkan dirinya dalam bahasa Inggris, setelah itu peserta di bagi dalam 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 peserta yang terdiri dari negara yang berbeda.
Selama 3 minggu, setiap kelompok diberi materi dan harus dibahas bersama , setelah itu dipresentasikan di depan peserta lain.  Namun, kegiatan tak hanya in-door saja, ada pula kegiatan out door yang disebut “Math Door”. Kegiatan dilaksanakan di Candi Borobudur, Candi Prambanan, Pantai Baron, Pantai Kukup dan Krakal serta gua Pindul. Peserta tak hanya ber-rekreasi, namun tugas mereka adalah “To Understand Math Formula with solve the real problem”, yaitu untuk membuktikan kebenaran tinggi, luas dan volume bangunan atau tempat yang mereka kunjungi.  Sedangkan materi yang paling susah bagi Pak angga adalah “Literative Quarantaty & Measuring”, di mana peserta diajarkan tentang pengukuran dan prakiraan/asumsi. Sebagai contoh peserta diminta untuk membuktikan tinggi suatu benda tanpa menggunakan alat ukur standar.
Tiga minggu terlalu singkat, bagi para peserta. Kenangan kebersamaan dengan rekan-rekan dari manca negara amat sayang untuk dilupakan.
“Perjumpaan dengan guru-guru yang profesional dalam mengajar, sungguh menginspirasi. Kami dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman. Dan selama kurang lebih 3 minggu dalam kebersamaan, kami sudah seperti keluarga sendiri, walaupun kami berasal dari budaya dan bangsa yang berbeda.” Itulah kesan-kesan dari Pak Angga selama mengikuti Diklat SEAMEO QITEP.


Puncak acara adalah” Night Culture” ( Malam Kebudayaan ), di mana masing-masing peserta memperkenalkan kebudayaannya melalui pentas seni dan baju daerah yang mereka kenakan pada malam itu. Tak ketinggalan Pak Angga yang mewakili Jawa Tengah, mengenakan Blankon dan baju sorjan khas Surakarta. Dan dalam acara tersebut, ia menampilkan Tembang Gambuh, andalannya.
Acara ditutup dengan saling tukar menukar souvenir, karena tiap peserta memang diwajibkan membawa souvenir untuk sejumlah peserta.
                SEAMEO QITEP berikutnya akan dilaksanakan di Manila, Philipina. 
See U, Guys ! See U next time ! We will meet again .... !









Tidak ada komentar: