Rabu, 21 Desember 2011

Renungan ( Bagian 3 )


Minggu ini 11-12-2012, saya melintasi jalan pemuda. Tiba-tiba, pandangan saya tertuju dengan seorang bapak yang sedang memperbaiki becaknya. Kemudian saya bidik dengan camera handphone SonyEricsson K580 yang saya bawa. setelah saya foto, saya terdiam sejenak. Betapa berat nya bapak itu memikul beban, pagi-pagi sudah langsung bekerja. mungkin pulangnya malam. Untuk pendap...atannya pun tidak seberapa. dari informasi yang pernah saya baca dari hasil wawancara media cetak lokal rata-rata mereka dalam sehari mengantongi paling sedikit 15.000-25.000. Namun, yang membuat perhatian saya, ada seorang tukang becak bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana. Terakhir yang saya baca bisa menyekolahkan anaknya fakultas kedokteran, dan anaknya sudah bekerja di puskesmas.
Dalam pikiran saya, bapak itu pasti mempunyai suatu keinginan yang besar, mungkin bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai tinggi. Mereka tipe pekerja keras.. Bagai mana dengan kita? apakah kita akan bekerja yang slow-slow saja tanpa motivasi-semangat dan tujuan? marilah teman, kita bangkit kita belom terlambat kok.. Nggak salah kita belajar dari seorang tukang becak...
Dok. Petualangan]veri
Catatan di HP K580i
Satu-satunya kota di Indonesia yang secara resmi melarang keberadaan becak adalah Jakarta. Becak dilarang di Jakarta sekitar akhir dasawarsa 1980-an. Alasan resminya antara lain kala itu ialah bahwa becak adalah "eksploitasi manusia atas manusia". Penggantinya adalah, ojek, bajaj dan Kancil.

Selain di Indonesia, becak juga masih dapat ditemukan di lainnya seperti Pacitan, wonogiri, solo dan surakarta. Di pacitan, becak kini hanyalah sebuah alat transportasi wisata saja.

Tidak ada komentar: