> DIBUKA PPDB TAHUN PELAJARAN 2024-2025 , INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI WHATSAPP SEKOLAH 08112921157 >>> PENGUMUMAN KELAS VI DIADAKAN PADA 10 JUNI 2024 >>> SEPEKAN LAGI PANEN KARYA DAN TUTUP TAHUN

Rabu, 18 Februari 2015

Hari Rabu Abu 2015 Pantang dan Puasa

batin dan berpantang guna mempersiapkan diri untuk Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita. Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3:6). Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C:13). Bapa Pius Parsch, dalam bukunya "The Church's Year of Grace" menyatakan bahwa "Rabu Abu Pertama" terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata: "Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu" atau "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil". Abu yang digunakan pada Hari Rabu Abu berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Setelah Pembacaan Injil dan Homili abu diberkati. Abu yang telah diberkati oleh gereja menjadi benda sakramentali. Dalam upacara kuno, orang-orang Kristen yang melakukan dosa berat diwajibkan untuk menyatakan tobat mereka di hadapan umum. Pada Hari Rabu Abu, Uskup memberkati kain kabung yang harus mereka kenakan selama empat puluh hari serta menaburi mereka dengan abu. Kemudian sementara umat mendaraskan Tujuh Mazmur Tobat, orang-orang yang berdosa berat itu diusir dari gereja, sama seperti Adam yang diusir dari Taman Eden karena ketidaktaatannya. Mereka tidak diperkenankan masuk gereja sampai Hari Kamis Putih setelah mereka memperoleh rekonsiliasi dengan bertobat sungguh-sungguh selama empat puluh hari dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sesudah itu semua umat, baik umum maupun mereka yang baru saja memperoleh rekonsiliasi, bersama-sama mengikuti Misa untuk menerima abu. Sekarang semua umat menerima abu pada Hari Rabu Abu. Yaitu sebagai tanda untuk mengingatkan kita untuk bertobat, tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda bahwa satu-satunya Keselamatan ialah dari Tuhan Allah kita.

------------------------------------------
Bacaan hari ini
 Injil MATIUS 6:1-6,16-18
Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya’. Tetapi jika engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya’. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

RENUNGAN:
Orang seringkali memperlihatkan apa yang dilakukan atau apa yang dimilikinya. Ada yang suka memperlihatkan handphone atau mobil baru kepada orang lain lengkap dengan harganya. Ada pula yang bercerita tentang keberhasilannya, ada pula yang memperlihatkan kelebihan diri atau kebaikan yang pernah dilakukan kepada orang lain. Tujuannya, agar orang lain memuji, menghargai dan menghormati. Tetapi tentu ini kurang tepat. Hari ini adalah permulaan masa puasa atau masa Prapaskah. Gereja mengajak kita untuk menghyati persiapan Paskah dengan laku tobat selama 40 hari. Bangsa Israel waktu itu menunjukkan laku tobat dengan emnaburkan debu diatas kepala mereka, memakai pakaian kabung, berpuasa, dan memperbanyak kegiatan berdoa. Inilah saat perdamaian antara umat dengan Allah. Umat berbalik kepada Allah dari dosa-dosa mereka dengan penuh kesadaran bahwa Allah itu pengasih dan penyayang. Tradisi puasa dan tobat ini cukup ketat diikuti oleh umat Israel. Sebagai orang Yahudi, Yesus tentu saja tahu dan mengikuti juga tradisi puasa dan tobat dengan setia. Meskipun begitu, didalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan para murid agar jangan memakai puasa mereka sebagai kesempatan untuk memamerkan kesalehan. Sebaliknya para murid harus tampil bersih agar jangan terlihat kalau mereka sedang berpuasa. Ini berarti, puasa harus disertai dengan kerendahan hati, menjahui kemunafikan. Gereja masih menambahkan lagi kegiatan masa puasa ini dengan karya amal. Tindakan tobat dijalankan bersama dengan tindakan cinta kasih. Seperti ditegaskan Yesus, kita perlu mendasari kedua tindakan saleh ini dengan sikap hati yang tulus, tidak mencari diri/pengakuan, tetapi sungguh berorientasi pada Allah dan sesama Selamat Berpantang dan Berpuasa




























Tidak ada komentar: